Merdeka.com - Kepolisian kini masih mengusut kasus pengeroyokan yang menewaskan Mia Nuraini (16). Dua rekan Mia, SA (14) , S (14) juga mengalami luka parah. Ketiganya dikeroyok enam pemuda saat tengah berkumpul di depan Terogong Residence, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, Rabu (12/3) dini hari tadi.
Kapolsek Cilandak Kompol Sungkono menuturkan, pihaknya telah mengantongi nama pelaku. "Menurut keterangan saksi, salah satu pelaku merupakan mantan pacar Mia," ucap Sungkono.
Sungkono menambahkan, menurut keterangan beberapa saksi yang diperiksa, mantan pacar Mia nekat mengeroyok Mia lantaran cemburu. "Salah satu saksi ada yang melihat mantan pacar Mia saat peristiwa itu terjadi," tuturnya.
Sungkono menjelaskan, sesaat sebelum insiden berdarah itu terjadi, mantan pacar Mia sempat bertemu dengan para saksi yang saat ini menjalani pemeriksaan di kantor polisi. "Namun, pelaku itu langsung pergi meninggalkan para saksi," tutur Sungkono.
Beberapa saat kemudian, pelaku tersebut datang kembali namun kali ini dengan membawa teman-temannya dan langsung mengeroyok para korban. "Jadi kami menduga motifnya ini cemburu karena mantan korban tidak senang korban kumpul-kumpul dengan teman-teman prianya. Tetapi, untuk bisa memastikannya tentunya masih menunggu keterangan dari pelaku," tandasnya.
Mia mengalami luka parah setelah dipukul bertubi-tubi. Setelah dirawat di rumah sakit, Mia mengembuskan napas terakhir.
Enam dari delapan pelaku pengeroyokan Mia Nuraini di daerah Cilandak, Jakarta Selatan pada Rabu (12/3) dini hari dibekuk aparat Kepolisian. Menurut pengakuan para tersangka, Mia merupakan korban salah sasaran karena mereka mengincar Soni Sumarsono (18), teman Mia.
"Jadi kalau menurut tersangka tadinya yang mau dipukul pakai gir itu korban Soni," ujar Kapolsek Cilandak Kompol Sungkono, di Mapolsek Cilandak, Kamis (13/3).
Namun nahas, lantaran Soni mengelak saat akan dipukul, gir tersebut melayang di kepala Mia. Hantaman gir tersebut menyebabkan Mia luka parah di kepalanya.
"Karena Soni ngeles, makanya jadi kena Mia yang ada di belakang Sony," tuturnya.
Sebelumnya, Mia Nuraini tewas dikeroyok oleh delapan orang. Satu di antara pelaku merupakan mantan pacar Mia semasa duduk di bangku sekolah.
Kompol Sungkono menjelaskan, pelaku A (DPO) cemburu karena Mia menjalin hubungan dengan Sony, salah satu korban yang juga ikut dikeroyok A dan tujuh pelaku lainnya.
"Di samping itu, menurut keterangan tersangka, A juga pernah dipukul oleh korban Sony," jelas Sungkono di Mapolsek Cilandak, Jakarta, Kamis (13/3).
Teori Sigmund Freud :
ID : Mantan Mia (Tidak disebutkan namanya) A berniat untuk membunuh Mia.
Ego : Apabila ia membunuh Mia, maka ia akan terkena hukuman penjara
Superego : Yang menentukan apa yang akan ia pilih ID atau Ego nya
Dalam kasus ini, mantan kekasih Mia lebih memilih untuk membunuh Mia karena ia merasa cemburu
Kamis, 27 Maret 2014
Kamis, 20 Maret 2014
Wilhelm Wundt
Wundt dilahirkan di Neckarau pada tanggal 18 Agustus 1832 dan meninggal di Leipzig pada tanggal 31 Agustus 1920. Ia mula-mula dikenal sebagai seorang sosiolog, filsuf dan ahli hukum. Ia mendapatkan pendidikan di Heidelberg, Tubingen dan Berlin. Gelar-gelar sarjanaan yang dimilikinya adalah dari bidang hukum dan kedokteran.
Ia mendirikan Laboratorium psikologinya yang pertama. Berdirinya laboratorium psikologi pertama di Leipzig ini pada tahun 1879 dianggap sebagai titik tolak berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang terpisah dari ilmu-ilmu induknya.
Sarjana-sarjana yang mempelajari psikologi umumnya adalah filsuf, ahli ilmu faal atau dokter. Wundt sendiri asalnya memang seorang dokter, tetapi dengan berdirinya laboratorium psikologinya, belia tidak lagi disebut sebagai dokter atau ahli ilmu faal, karena ia mengadakan eksperimen-eksperimen dalam psikologi di laboratoriumnya itu. Wundt sangat dipengaruhi oleh 2 orang tokoh yang dianggap gurunya, yaitu Helmholtz dan J.P.Muller
Ada 3 macam hukum mental :
- Hukum resultan psikis (the law of phsycis resultans) disebut juga prinsip sintesa kreatif (the principle of creative synthesis), yang berbunyi bahwa setiap gejala psikis yang kompleks selalu mempuyai sifat-sifat baru yang berbeda dari elemen-elemennya.
- Hukum hubungan psikis (the law of pshycis relations), yaitu bahwa sebuah elemen kesadaran/konsep psikis akan mempunyai arti hanya dalam hubungan dengan elemen-elemen/konsep-konsep psikis (psycis contents) lainnya.
- Hukum kontras psikis (the law of pshycis contrast), bahwa elemen-elemen kesadaran/konten psikis yang paling bertentangan/berlawanan justru saling memperkuat satu sama lain.
Sumber : Buku Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi (Sarlito W.Sarwono)
Minggu, 16 Maret 2014
Hermann Ebbinghaus - pelopor penelitian memori
Hermann
Ebbinghaus
(24 Januari 1850 - 26 Februari 1909) adalah pendiri psikologi eksperimental
memori. Di antara penemuan yang paling terkenal adalah kurva lupa , yang kurva belajar dan efek jarak . Ebbinghaus mempublikasikan
hasil terobosan dalam monografi berjudul "Über das Gedächtnis"
(1885), yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai
"Memory: Sebuah Kontribusi Psikologi Eksperimental" (1913).
Kehidupan Hermann Ebbinghaus
Hermann
Ebbinghaus lahir pada 24 Januari 1850 di Barmen (sekarang bagian dari kota
Wuppertal Jerman). Ayahnya, seorang Lutheran pedagang kaya mendorong dia dari
anak usia dini untuk mengejar karir akademis. Pada usia 17 Ebbinghaus terdaftar
di Universitas Bonn (Rheinische Friedrich-Wilhelms-Universität) untuk
mempelajari sejarah dan filsafat. Pada tahun 1868 ia menjadi anggota Korps
Guestphalia Bonn (sebuah perusahaan mahasiswa di negara-negara berbahasa
Jerman). Studinya terputus pada tahun 1870 karena Perang Perancis-Prusia di
mana ia terdaftar sebagai anggota tentara Prusia.
Setelah perang Ebbinghaus melanjutkan pendidikan di universitas-universitas di Halle dan Berlin. Dia akhirnya kembali ke Universitas Bonn untuk menyelesaikan disertasinya pada filosofi Eduard von Hartmann dari Bawah Sadar. Pada tahun 1873, pada usia dua puluh tiga, Ebbinghaus menerima gelar doktor dalam filsafat.
Setelah perang Ebbinghaus melanjutkan pendidikan di universitas-universitas di Halle dan Berlin. Dia akhirnya kembali ke Universitas Bonn untuk menyelesaikan disertasinya pada filosofi Eduard von Hartmann dari Bawah Sadar. Pada tahun 1873, pada usia dua puluh tiga, Ebbinghaus menerima gelar doktor dalam filsafat.
Hermann
Ebbinghaus kemudian pindah ke Berlin di mana ia melakukan studi pasca-doktor
independen selama beberapa tahun sebelum meninggalkan untuk perjalanan di
Perancis dan Inggris selama tiga tahun. Titik penting dalam hidupnya adalah
ketika ia ditemukan selama perjalanannya dalam buku London Gustav Fechner
"Elements of Psychopysics" yang memacu minat dalam melakukan studi
psikologi eksperimental, terutama pada memori.
Ebbinghaus mulai set pertama percobaan memori akhir tahun 1878, yang membawanya lebih dari setahun. Dia kemudian menjadi dosen swasta di Universitas Berlin pada tahun 1880 di mana ia melanjutkan studi memori. Pada tahun-tahun 1883-1884 Hermann Ebbinghaus diulang dan disempurnakan banyak percobaan aslinya 1878-1880. Pada tahun 1885 akhirnya dia menerbitkan karya mani dalam monografi "Über das Gedächtnis" (1885), yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul "Memory: Sebuah Kontribusi Psikologi Eksperimental" (1913).
Ebbinghaus mulai set pertama percobaan memori akhir tahun 1878, yang membawanya lebih dari setahun. Dia kemudian menjadi dosen swasta di Universitas Berlin pada tahun 1880 di mana ia melanjutkan studi memori. Pada tahun-tahun 1883-1884 Hermann Ebbinghaus diulang dan disempurnakan banyak percobaan aslinya 1878-1880. Pada tahun 1885 akhirnya dia menerbitkan karya mani dalam monografi "Über das Gedächtnis" (1885), yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul "Memory: Sebuah Kontribusi Psikologi Eksperimental" (1913).
Hermann
Ebbinghaus adalah dosen yang energik, antusias, fasih dan cerdas yang menjadi
profesor populer, sangat dihargai oleh dosen dan dicintai oleh siswa. Ia
menjadi gembira tentang masalah-masalah baru yang muncul dan mendorong diskusi
tersebut. Ebbinghaus secara luas dikenal dan reputasinya dibawa bahkan siswa
Amerika selama perjalanan mereka melalui Eropa ke Berlin. Cornell University
menawarkan posisi, Ebbinghaus namun lebih memilih untuk tetap di Eropa.
Pada
tahun 1886 ia mendirikan laboratorium untuk psikologi eksperimental di
Universitas Berlin.
Pada
tahun 1890 ia mendirikan the "Zeitschrift Psikologi bulu und der
Physiologie Sinnersorgane (Jurnal Psikologi dan Fisiologi Sense Organ)"
dengan Arthur König. Minatnya dalam jurnal sebagian besar didorong oleh
kemungkinan untuk menerbitkan karya yang berasal dari tempat lain selain
Leipzig laboratorium Wundt. Jurnal ini sering dikreditkan dengan kemajuan
internasional studi psikologis. Pada saat kematian Ebbinghaus pada tahun 1909
jurnal "... telah mungkin lebih lengkap mewakili kemajuan psikologi selama
dua puluh tahun daripada jurnal lainnya ..." kali (Woodworth, 1909).
Dalam
tahun-tahun berikutnya Ebbinghaus menjadi tertarik untuk mempelajari visi dan
menerbitkan teori warna-visi pada tahun 1893.
Antara
1894 dan 1905 Hermann Ebbinghaus menjadi profesor di Universitas Breslau
(sekarang Wroclaw, Polandia). Pada tahun 1894 ia mendirikan laboratorium lain
psikologi eksperimental di Universitas Breslau. Dari 1905-1908 ia menjadi
profesor di Universitas Halle.
Pada
tahun 1909, Hermann Ebbinghaus meninggal karena pneumonia di Breslau.
Karya-karya Hermann Ebbinghaus
Karya-karya
Ebbinghaus adalah hasil dari kerja keras dan banyak eksperimen di laboratorium.
Ebbinghaus, bagaimanapun, menghabiskan banyak waktu tidak hanya di
laboratorium, tetapi mencari dana dan sumber-sumber keuangan untuk melanjutkan
penelitian dan membayar murid-muridnya. Waktu dan usahanya itu dihabiskan
dengan baik - hasil penghitungan risetnya hari ini sebagai kontribusi mendasar
untuk bidang psikologi. Dan Ebbinghaus dianggap sebagai pelopor dalam
penelitian memori.
Ebbinghaus 'Kontribusi untuk Sains
- penemuan kurva lupa
- penemuan efek jarak
- penemuan kurva belajar
- Penemuan efek posisi seri
- Penemuan efek primacy
- Penemuan efek recency
- penemuan efek tabungan
- Penemuan efek overlearning
- perbedaan antara memori sukarela dan tidak sukarela
- pengenalan cara modern penulisan artikel ilmiah
- orang yang mempopulerkan percobaan dalam psikologi
- melengkapi kalimat sebagai tes kecerdasan untuk anak-anak sekolah
- penemuan ilusi Ebbinghaus (ilusi optik)
http://www.flashcardlearner.com/articles/hermann-ebbinghaus-a-pioneer-of-memory-research/
Jumat, 14 Maret 2014
Sejarah Lahirnya Psikologi dan Perkembangannya
Sebagai bagian
dari ilmu pengetahuan, psikologi melalui sebuah perjalanan panjang. Bahkan
sebelum Wundt mendeklarasikan laboratoriumnya tahun 1879, yang
dipandang sebagai kelahiran psikologi sebagai ilmu. pandangan
tentang manusia
dapat ditelusuri jauh ke masa Yunani kuno.Psikologi sendiri sebenarnya telah dikenal sejak
jaman Aristoteles sebagai ilmu jiwa, yaitu ilmu untuk kekuatan hidup ( levens
beginsel). Aristoteles memandang ilmu jiwa sebagai ilmu yang mempelajari gejala
- gejala kehidupan. Jiwa adalah unsur kehidupan (Anima), karena itu tiap - tiap
makhluk hidup mempunyai jiwa.
Dapat dikatakan bahwa sejarah
psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual di Eropa, dan mendapatkan
bentuk pragmatisnya di benua Amerika.
Sejarah
perkembangan psikologi dimulai saat Psikologi masih bersatu dan menjadi bagian
dari Filsafat. Banyak para ahli menulis bahwa sejarah perkembangan Psikologi
dimulai dengan munculnya pandangan tentang jiwa dan manusia dari trio filosof
besar zaman Yunani Kuno, yaitu Socrates, Plato, dan Aristoteles.
Namun Benjafiled (1996) dalam bukunya A History of Psychology menulis
bahwa sejarah Psikologi dimulai saat munculnya teori tentang jiwa yang ditinjau
berdasarkan pandangan matematis oleh Pythagoras (572 – 497 SM).
Masa-masa berikutnya, Psikologi terus berkembang hingga pada tahun 1879,
Psikologi resmi lahir sebagai ilmu yang berdiri sendiri dan terpisah dari
filsafat. Lahirnya ilmu ini dipelopori oleh Wilhelm Wundt
(1832-1920) yang mendirikan laboratorium Leipzig di Jerman, yang merupakan
laboratorium pertama yang mempelajari tentang tingkah laku manusia (Benson dan
Grove, 2001 : 25). Perkembangan Psikologi selanjutnya ditandai dengan hadirnya
ilmuwan-ilmuwan psikologi dengan berbagai aliran dan teori-teori yang
dihasilkannya, hingga pada akhirnya Psikologi mampu menjadi suatu disiplin
ilmu.
Perkembangan Psikologi sebagai Ilmu
mandiri
1. Psikologi Fisiologis
Fisiologi dipelopori oleh Johannes
Muller di Berlin, Marshal Hall di London, dan Pierre
Flourens di Paris. Mereka mempelajari tentang fungsi otak dan
pengaruhnya terhadap tingkah laku manusia , dan mencoba menentukan letak
daerah-daerah khusus dan mengembangkan “metode klinis” degan meneliti kerusakan
otak menusia terganggu tingkah lakunya. Gustav Fritsch dan Eduard
Hitzig (1870) meneliti tentang efek aliran listrik berdaya lemah, yang
dialirkan pada bagian otak tertentu kemudian dilihat efeknya terhadap perilaku.
2. Psikologi Eksperimental
Perjalanan sejarah perkembangan
Psikologi tidak terlepas dari peran besar para ahli Psikologi di Jerman, hingga
kemudian jerman dkatakan sebagai Ibu Psikologi. Tahun 1879, Wilhelm Wundt
(1832-1920) bersama para asistennya yaitu Helmholtz, Weber, dab Fechner
mendirikan sebuah laboratorium pertama yang mempelajari tentang tingkah laku
manusia di Lipzig, Jerman, yang kemudian menandai lahirnya Psikologi sebagai
ilmu yang mandiri, terpisah dari filsafat dan ilmu alam. Wundt adalah
orang pertama yang mengenalkan istilah “Psikologi Eksperimental”
dan mensosialisasikan ajaran instrospeksi, yaitu pemeriksaan keadaan mental
diri sendiri. Ajaran Wundt banyak berpengaruh pada ahli-ahli Psikologi,
seperti Ebbinghaus, Muller, Brentano, Stumpf, dan Kulpe.
3. Psikologi Strukturalisme
Tahun 1893, Edrward Titchener
91867-1927), seorang murid Wundt yang sangat terkenal, mengembangkan
Psikologi di Amerika Serikat dengan mendirikan Laboratorium di Cornell. Titshener
mengaku bahwa meskipun ia adalah pengikut Wundt yang setia namun ia
mengembangkan suatu pendekatan tersendiri. Pandanagan strukrualisme-nya
berdasarkan pada hasil inrospeksi dan bersifat mekanistik, yaitu memilakh
pengalaman manjadi unsure-unsur yang hanya memiliki makna bila bersatu (yang
kemudian disetujui oleh para penganut gestalt). Struktualis juga
mempermasalahkan tentang “apa” dan “di mana”dan menolak adanya Psikologi
terapan. Aliran ini bertahanb hingga 25 tahun dan berakhir ketika Titchener
wafat(Benson & Grove, 2001 : 42-43).
4. Psikologi Fungsionalisme
Muncul kemudian suatu pandangan yang
bertentangan denagn struktualisme, yaitu Fungsionalisme. Titik berat pandangan
ini adalah pada cara berjalannya fungsi otak, yang dialtarbelakangi oleh konsep
kesadaran dari Darwin dan Galton, serta Herbert Spencer
(1820-1903). Fungsionalisme mempermasalahkan tentang “bagaimana” dan “mengapa”
dan mencoba untuk menreapkan Psikologi dalam kehidupan sehari-hari.
Fungsionalisme dipelopori oleh William James (1842-1910), Jonh
Dewey (1859-1952), James Angel (1869-1949) dan Harvey
Carr (1873-1954) (Benson & Grove, 2001 : 42-46).
5. Psikoanalisis
Aliran Psikodinamika (1896) yang
berarti “jiwa yang aktif”, dipelopori oleh Sigmund Freud
(1856-1939). Aliran ini pada pelaksanaannya sering menerapkan teori
psikoanalisis sehingga kemudian banyak orang menyebutnya sebagai aliran
Psikoanalisis. Istilah Psikoanalisis pertama kali digunkan oleh Freud.
Istilah ini menggambarkan berbagai teori dan teknik yang digunakan untuk
mencari dan menyebuhkan masalah mental manusia.
6. Behaviorisme
Aliran Behaviorisme berakar dari
pemikiran filosofis tentang asosiasinisme yang mempelajari cara pikiran saling
berhubungan dan mencoba untuk menemukan “hukum” yang menggambarkan dan
menjelaskan tingkah laku (Benson & Grove, 2001 : 60). Pokok ajaran
behaviorisme adalah mengenai tingkah laku tanpa mengkaitkannya degnan konsep
kesadaran atau mentalitas.
7. Paikologi Gestalt
Psikologi Gestalt mengkaji masalah
tingkah laku dan pengalaman sebagai kesataun totalitas. Ajarannya menyatakan
bahwa melihat keseluruhan jauh lebih berarti daripada melihat bagian per
bagian. Konstribusi terbesar dari aliran ini adalah di bidang persepsi dan
belajar. Pemikir utama aliran ini adalah Max Wertheimer
(1880-1943), Wolfgang Kohler (1887-1967), dan Kurt Koffka
(1886-1941) (Chaplin, 1997 : 208).
8. Humanistik
Psikologi Humanistik berkembang dari
fenomenologi. Aliran ini mengkaji masalah kesehatan mental, dengan segala
atribut positifnya, seperti kebahagiaan, kesenangan, kegembiraan, kebaikan,
kasih saying, berbagi dan kedermawanan. Aliran ini banyak dikembangkan oleh Abraham
Maslow (1908-1970) yang sangat terkenal dengan teori aktualisasi diri
dan hierarki kebutuhan ; dan Carl Rogers (1902-1987) yang banyak
membahas mengenai kepribadian yang sehat. (Benson & Grove, 2001 : 107-114).
Psikologi Masa Kini
Perkembangan Psikologi dewasa ini
diwarnai dengan semakin luasnya bidang kajian Psikologi hingga muncul
“cabang-cabang” baru dalam ilmu ini. Di antaranya Psikologi Islami (atau ada
yang menyebut Psikologi Islam), yang mencoba mengkaji Psikologi dengan landasan
dan orientasi nilai-nilai Islam (Ancok dan Soeroso, 2001 : 139). Benson &
Grove (2001) mencatat dua bagian baru dari Psikologi yang akihir-akhir
ini sangat berpengaruh, yaitu Psikologi Kognitif dan Psikologi Kesehatan.
Psikologi Kognitif yang sering disebut
sebagai ilmu kognitif, dipandang mampu menyelsaikan masalah dengan menerapkan
hasil penelitiannya pada pemecahan masalah. Psikologi kesehatan merupakan
penggunaan Psikologi yang relative masih baru bila dibandingkan dengan
bagian-bagian Psikologi yang lain, terutama dalam bagian Psikologi Individual.
Penggunaan yang terkait dalam hal ini adalah munculnya Psikologi Olahraga yang
berisi motivasi, konsep diri, dan dinamika kelompok (Benson & Grove, 2001,
: 168).
http://www.psydu.com/sejarahpsikologidanperkembngannya
Langganan:
Postingan (Atom)

